Pertama, ini karya temenku, dia pas mau bikin WP gagal terus, nah nanti kalau dia bikin blog, kunjungi blognya saja… dan kalau tulisannya sama dengan yang ini, aku cuma bantu copy saja…

Enjoy the story by: Alva…

Ini salah sayu naskah “True Story”ku yang gagal jadi artikel di wordpress…

Ngupil

 

Siang itu, gue sama temen-temen terpaksa jalan ke SMP buat ngambil bambu keperluan pramuka, dengan kaki kami sendiri! Sinar matahari datang dan menusuk-nusuk kulit ari gue sampe bikin gue mendesah “Aah, aah,” kaya suara yang dibikin sama Miyabi pas main film porno. Lautan pasir dimana-mana, pengendara onta berlalu lalang, eh, salah, itu adegan dari film “Prince of Persia.” Setelah berhasil menyentuh area gudang, gue langsung berseru “Ini adalah sebuah langkah kecil bagi manusia, dan langkah besar bagi peradaban manusia,” ngutip dari kata-katanya Neil Amstrong yang masih ga jelas beneran mangkal di bulan ato ga. Saat yang lain lagi asik beberes gudang sama ambil-ambil bambu, gue dan Gavin (salah satu sahabat gue yang sama-sama sinting) malah mainan bambu, serasa main film “Star Wars.” Setelah beres-beres, kami wajib balik ke SMA. Kaki terasa letih dan lesu, padahal gue ga bawa apa-apa sama sekali. Gue, Gavin, sama Sena (baca: Seno, kalo ga bisa baca ya Sena aja) sempet-sempetin mampir ke perpustakaan SMP. Gue ketemu sama Pak Erwin, mantan guru SMP gue yang paling sering gue bully. Sampe saat ini, gue masih beranggapan kalo beliau itu ga disunat pas kecil, soalnya beliau ga lebih tinggi dari gue.

“Siang pak!,” suara gue lantang sambil hormat ala TNI. Beliau cuma cengar-cengir ga jelas. Tiba-tiba, tanpa alasan, gue merhatiin wajahnya Pak Erwin. Dia cantik, matanya memandang dengan sayu, hidungnya mancung, rambutnya bergerak lembut tertiup angin sepoi-sepoi, dan bibirnya. Bibirnya manis, ah, rasanya ingin menciumnya. Eh, najis, amit-amit, sadarlah Alva!! Oke-oke, gue ngelamun, ulangi lagi. Rambutnya cupu, poni sasak gitu, alisnya tebel, jenggotan, ah, tahi lalat di bawah bibir, itu paling khas, pokoknya mukanya lucu lah. Nah, ini yang menarik perhatian gue, bulu hidung! Yap, bulu idungnya emang rada-rada random gitu. Sebelah kiri ga ada, tapi yang sebelah kanan menjulur keluar mirip tentakel punya Squidward.

“Pak, ada upil!,” gue menjerit. Iya, ini serius. Gue liat ada upil yang terjebak dibalik bulu-bulu hidung Pak Erwin bagaikan di dalam penjara. Kalo upil bisa ngomong, doi pasti meneriakkan kata “SAYA TIDAK BERSALAH!! BEBASKAN SAYA!! PERBUATAN ANDA PASTI AKAN DIBALAS!!.” Kasihan doi. Sontak, Pak Erwin menggerakkan tangan kanannya dan MENGUCEK-NGUCEK MATANYA! Wadefak!! Kami semua spontan ngakak, guling-gulingan dari lantai perpus ke lapangan upacara naik ke lantai 2 dan ujung-ujungnya balik lagi ke perpus, lalu menangis terharu. Pak Erwin ngupilnya tuh beda, ngucek mata. Suatu kenyataan pahit yang akhirnya diketahui oleh kami semua.

“Sini lah pak. Nih aku ajarin, ini mata, ini idung. Nah, ini upilnya,” kata Gavin sambil bersihin upilnya Pak Erwin dengan pinset yang udah direndem aer kembang 8 rupa. Romantis beud pokoknya. Kami pun kembali melanjutkan perjalanan.

About gregorygavin

Laki-laki kelahiran tahun 1995, januari 5. bercita-cita menjadi pekerja sukses, bisa bermain gitar walau tidak jago.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s